May
6
kabar terbaru
May 6, 2009 | | 3 Comments
hari ini jam 8.51, kamis tanggal 7 Mei 2009.
bismillah, semoga mulai hari ini saya bisa rutin lagi nyorat nyoret di FS ….
oh ya buat yang belum tahu, tahun kemaren, tepatnya 2 Mei 2008 Alhamdulillah, anak kami ( m.mahmud dan khoirur rohmah ) lahir pada usia awal 8 bulan (dan innalillah) dalam kondisi wafat di RS Aisyiyah Gresik.
Menurut dokter Edika, adek bayi (yang kami beri nama Salsabila Nur Hamidah) sudah wafat dalam kandungan selama 4 hari, masyaAllah …. tapi alhamdulillah adek bayi lahir tanpa operasi, ibunya juga sehat wal afiat, walaupun butuh sedikit ruang untuk menenangkan diri.
Dokter edika sendiri belum bisa memastikan apa yang menyebabkan hal ini, tapi yang jelas sebelumnya saya sakit tipes selama kurang lebih satu setengah bulan, ada beberapa keluarga yang bilang kemungkinan karena tertular tipes. Apalagi istri yang saat itu mengandung 6-7 bulan merawat saya nyaris tanpa memperhatikan diri sendiri.
… semoga nak Salsa (begitu istri saya memanggilnya) atau nak Mida (begitu ibuk memanggilnya) kelak menjadi anak yang berguna bagi orang tua, dan semua orang yang berjasa kepada kami semua,… amiiin…
Dan alhamdulillah, saat ini istri sudah hamil lagi. usia kandungannya saat ini 6 bulan. Mohon bantu do’a semoga nanti adek bayi lahir dalam kondisi sehat dan sempurna lahir bathin, menjadi anak sholeh yang bermanfaat bagi semuanya, patuh pada orang tua dan taat pada Yang Kuasa. amiiin…
Aug
16
Undangan Pernikahan
August 16, 2007 | | 5 Comments
Alhamdulillah, Mohon doa restu pada akad nikah kami, M.Machmud dengan Khoirur Rohmah pada 24 agustus 2007, serta resepsi pernikahan pada Ahad 26 agustus 2007 di desa Morobakung Manyar Gresik.
Beliau (Khoirur Rohmah) lahir pada 4 juli 1986 di desa Mengare kecamatan Bungah Gresik. Saat ini Beliau sedang menyelesaikan studi pada tahun ketiga (semester 6) di STTQ (Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin) di Bungah Gresik jurusan Teknik Informatika, tempat penulis mengajar.
Pengen liat potonya ??? jangan deh,… kalo mau tau dateng aja ya ke resepsinya.. lagian, aku gak mau posting poto beliau di internet, ntar ada yang nyimpen…..
Buat yang mau dateng, ini petanya. kalo masih bingung hubungi aja penulis di 0856-30-11-516.
Jul
12
beragama yang …. ???
July 12, 2007 | | 2 Comments
"wa man lam yahkum bimaa anzalallahu ……"
Suatu ketika saya mendengar ibuk bilang ke tetangga, "wong parek langgar kok gak tau jama’ah,.. jare kanjeng Nabi sholate wong ngono iku gak diterimo lho …" ..
Di lain waktu, saya ogah jama’ah ke langgar di depan rumah, ibuk nanya "gak nang langgar ta Mud ??", jawabku loyo "kulo nedo riyen buk, ket wonten dalan pun luweh banget…."
bagaimana reaksi ibuk ??
ini masalah yang sangat sepele, tapi bisa jadi sangat kompleks ketika kita "tidak hanya" tau masalah saat ini,…
Jul
9
Fikih Berwawasan Etika
July 9, 2007 | | Leave a Comment
Salah satu tulisan (diantara banyak tulisan dan literatur utama) yang terasa benar2 NU-Minded yang dihidangkan kepada seluruh umat Islam.
ini bukanlah langkah kebelakang, tapi berusaha agar kita bisa melihat dan memberi penilaian dengan lebih adil …
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=298983&kat_id=16
Kamis, 05 Juli 2007
Fikih Berwawasan Etika
Oleh : Said Aqiel Siradj [ Ketua PBNU ]
Fikih pada mulanya mempunyai arti lebih luas dari yang umumnya dipahami saat ini. Semula, sesuai dengan arti lughawi-nya, fikih bermakna al fahmu, paham atau mengetahui. Memahami atau mengetahui baik yang berkaitan dengan urusan tauhid/teologi, tasawuf/akhlak, maupun hukum. Namun, kemudian akibat perkembangan ilmu dan pergumulan pemikiran, fikih menciut artinya dari yang semula mencakup aspek teologis, akhlak dan hukum, kepada perihal hukum saja. Akibatnya, fikih lebih bernuansa legal-formal, daripada etis atau sosial. Sebab, sifat hukum adalah mengikat/memaksa. Inilah kemudian yang menyebabkan fikih terkesan rigid, kaku, tidak fleksibel. Dalam arti fikih kehilangan wawasan etisnya.
Wawasan etik
Fikih sendiri sebagai salah satu produk manusia, tentunya tidak terlepas dari sifat pengetahuan atau ilmu yang menerima pengembangan lebih lanjut. Ia tidaklah absolut, namun nisbi. Artinya, fikih dapat dikritik bahkan dirombak total, akibat tidak selaras lagi dengan misi pembebasan manusia (rahmatan li al `âlamîn).
Inilah faktor yang merupakan kelemahan dasar dalam memandang agama selama ini. Islam hanya dipandang semata-mata sebagai teks verbal dan bukan pada wawasan etiknya. Gagasan untuk menyatukan kembali antara fikih dan etika atau fikih dan teologinya pernah dilontarkan Fazlurrahman, seorang pemikir Islam progresif. Gagasan untuk menyatukan kembali antara fikih dan wawasan etis ini penting, sebab, sepertinya fikih itu asyik kita geluti sebagai yang terpisah atau terisolasi dari wawasan etis (wawasan yang bersifat etika) yang merupakan landasan etis dari fikih itu sendiri.
Dengan kata lain, untuk memperbarui pemahaman Islam, khususnya fikih, adalah dengan menghidupkan kembali wawasan etik ini. Oleh karena itu, agar fikih dapat memberikan jawaban yang selaras dengan cita-cita kemanusiaan, sangat perlu dibangun sebuah fikih yang berwawasan etis atau melandaskan fikih pada maqashid syari’ah (tujuan diterapkannya suatu hukum).
Maqashid syari’ah telah dikenal luas dalam ushul al fiqh. Namun, pengembangan maqashid, dalam bentuk contoh-contoh konkret dalam konteks kekinian masih sangat terbatas dan belum begitu luas. Misalnya dalam menanggapi masalah prostitusi. Bagaimana fikih melihat masalah ini dalam konteks negara. Dalam hal ini, bukan sekadar menelorkan keputusan hukum/fatwa haram, tapi bagaimana memandang masalah prostitusi berkaitan dengan masalah sosial dan ekonomi. Bila sekadar fatwa haram kemudian berujung pada pemberantasan dan pemusnahan prostitusi, tentu kurang etis. Tapi bagaimana meminimalisasi praktik prostitusi besar-besaran dengan bentuk penyediaan lapangan pekerjaan dan memberikan pelatihan kerja dengan intensif.
Dengan melihat faktor di balik praktik prostitusi itu, kita akan melahirkan semisal bentuk lokalisasi dan pembinaan kerja pada para pelacur. Maslahat yang tampak adalah tidak mematikan kerja mereka secara ‘kejam’, tapi meminimalisasi dan berusaha mengalihkan kepada bentuk kerja yang lebih bermartabat dan menjanjikan. Jadi, hukum fikih dalam kasus tersebut menjadi bisa bernuansa humanis, membebaskan, dan transenden/bermartabat. Ini visi fikih etis, dengan mendasarkan pada metode maslahat.
Satu contoh lagi misalnya, bagaimana fikih memandang masalah korupsi dan hukumannya. Jika mendasarkan pada wawasan etis, maka korupsi dihukumi sebagai kejahatan besar/dosa besar karena merugikan masyarakat dan bahkan negara. Hukumannya pun bisa melebihi pencurian. Bukan cuma dengan hukum menakutkan, tapi misalnya bila kelak mati, jasadnya jika ia Muslim tidak dishalati. Tapi bagaimana sebelum ajalnya, ia telah merasakan sanksi hukuman yang tegas. Di mana hal ini bisa menjadi pelajaran baginya agar tidak mengulangi dan bagi orang lain agar tidak mencontohnya. Ini bila dijalankan secara serius akan membawa ketenteraman dan bisa menciptakan good governance dan memberi secercah harapan akan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Dampak yang diakibatkan tindakan korupsi sangatlah luas.
Jadi, memperhatikan hal tersebut berupa hal penting yang perlu dilakukan adalah optimalisasi peran ushul al fiqh dengan mengembangkan metodologi yang dapat menangkap pesan-pesan etik dan moral, menuju pada keadilan, ketenteraman, dan kesejahteraan individu serta masyarakat. Masalah inilah yang seharusnya menjadi kata kunci dalam pengembangan metodologi Islam saat ini.
Bagaimanapun, agama tidak seharusnya dipahami sebagai konsep hukum dalam arti legal, tetapi harus dipahami sebagai konsep moral atau etika. Memang harus diakui bahwa tidak ada sebuah terminologi yang ekuivalen terhadap apa yang dikenal dengan konsep etika. Secara umum, etika sering dipahami dengan ketentuan tentang baik dan buruknya sesuatu, yang mana prasangka dan perasaan-perasaan tertentu berada di bawah kekuatan moral.
Faktor maslahat
Dalam mengembangkan metode yang menekankan wawasan etis dengan harapan bisa memenuhi maksud di atas, mashlahah sebagai salah satu metode ushul al fiqh selama ini dengan rekonstruksi, perlu dinaikkan derajat dan posisinya menjadi metode sentral ushul al fiqh (Al Manhaj Al Asasiyyah li Ushul Al Fiqh) . Sebab, ternyata semua bentuk pemahaman terhadap teks agama juga didasarkan pada dimensi maslahat, dalam arti untuk meraih kemanfaatan dan/atau untuk menghindarkan kemafsadatan (jalb al mashalih wa dar al mafasid) . Bahkan pun al kulliyyyat al khamsah dalam fikih, menurut satu pendapat dapat diringkas dalam jalb al mashalih.
Meskipun pemahaman atas kemaslahatan yang dimaksudkan oleh penafsir-penafsir maupun mazhab-mazhab, tidaklah seragam, ini menunjukkan betapa maslahat menjadi acuan setiap pemahaman keagamaan. Ia menempati posisi yang sangat penting. Oleh karena nilai maslahat menjadi acuan penting, maka pengembangan dan penempatan metode mashlahat pada posisi sentral metode ushul fikih sangat perlu dipertimbangkan. Talfiq Manhaji, yakni penggabungan/pemakaian selektif metode ushul al fiqh dalam sebuah kasus bisa mengawal operasionalisasi gagasanmanhaj al mashlahah sebagai metode sentral. Karena dalam talfiq manhaji sudah terlihat peran atau optimalisasi ushul al fiqh.
Dalam memposisikan mashlahat sebagai metode sentral ushul al fiqh, perlu dilakukan langkah-langkah berikut. Pertama, kita memposisikan teks, akal, dan konteks/realitas yang lalu dan kekinian secara holistik (melingkar). Dan mashlahat sebagai sentral di dalam lingkaran ini. Kita cari maslahat ini melalui penggalian terhadap teks oleh akal dengan melihat konteks historis maupun konteks kekinian. Atau maslahat bisa digali dari realitas dan dikaitkan dengan teks, dengan melihat substansi-substansi/prinsip-prinsip universalnya. Maslahat yang dilahirkan dari lingkaran ‘kehamilan’ ini berwujud ‘bayi yang suci’ berupa keadilan, kasih-sayang, kedamaian, dan kesejahteraan.
Kedua, yang dijadikan pertimbangan hukum adalah substansi teksnya, bukan bunyi tekstualnya (al ibrah bi al maqashid la bi al alfazh) . Maqashid al syari`ah menempati posisi utama dalam ijtihad. Penguasaan terhadap maqashid al syari`ah ini menjadi salah satu syarat utama bagi mujtahid. Ketiga, dalam menghadapi nash yang berbenturan dengan realitas kekinian, maka yang dilakukan adalah memerankan maslahat atas nash (naskh al nushush bi al maslahah) .
Keempat, dalam menggali dan menebarkan kemaslahatan publik, yang diperlukan adalah melibatkan pelbagai pakar di bidangnya masing-masing, yang hasilnya menjadi sebuah kesepakatan bersama, ijmak. Jadi dalam merumuskan maslahat diperlukan kesepakatan bersama. Mashlahat publik adalah kumpulan dari maslahat personal/domestik. Dengan demikian, fikih akan kembali menyatu dengan wawasan etisnya, yang menjadi landasan bagi perumusan fikih itu sendiri. Dengan begitu, diharapkan fikih benar-benar lebih mampu memenuhi kebutuhan manusia.
Ikhtisar
- Fikih yang kehilangan sentuhan etik menjadi terkesan rigid, kaku, dan legal-formal.
- Wawasan etik sangat diperlukan supaya fikih menjadi selalu aktual dengan konteks Islam rahmatan lil ‘alamin
- Kemashlahatan menempati posisi yang sangat penting agar fikih bisa benar-benar memenuhi kebutuhan manusia.
Jun
19
Mobile phone and data standards
June 19, 2007 | | Leave a Comment
| Mobile phone and data standards |
| 0G |
| 1G |
| 2G |
| 3G |
4G
|
| Frequency bands |
Jun
19
FDMA, TDMA, CDMA & GSM - What is the future?
June 19, 2007 | | 1 Comment
http://www.celusion.com/whitepapers/fdma_tdma_cdma.htm
Abstract
The wireless revolution, or more correctly evolution, is in full
swing worldwide. In this paper, the author presents a short history
of mobile wireless telephony with an emphasis on the relevant air
interface technologies. FDMA, TDMA, and CDMA are put in perspective
as the wireless networks evolved from the first generation to the
second. The paper concludes with an explanation of the evolutionary
paths to third generation for GSM and CDMA systems.
Introduction
Cellular telephony arrived on the North American scene in 1983 with
the rollout of the Advanced Mobile Phone System (AMPS). After almost
forty years in the making, projections of only one million subscribers
by 1990 led many to believe that cellular phones were for a small
segment of the population only. By 1990, the U.S. had over five
million cellular subscribers and today there are almost 140 million
subscribers in the U.S. From the world perspective, there are now
over one billion users of wireless telephony. In fact, early this
year wireless telephones surpassed wired telephones in the world.
Early systems, now referred to as first generation
(1G), used analog technology called frequency division multiple
access (FDMA) to deliver a radio-based voice channel to a mobile
telephone user. Problems included poor quality, limited coverage,
and less than adequate system capacity-but mobility ruled the day.
In the late 1980s, second generation (2G) systems were deployed
using digital technologies. The first U.S. system used time division
multiple access, and was known as North American Digital Cellular
(NADC). We no longer use the term NADC and simply call the system
TDMA. In the early 1990s, TDMA technology was used to introduce
the Global System for Mobile Communication (GSM) to Europe. In the
mid 1990s, code division multiple access (CDMA) became the second
type of digital 2G system, with the U.S. introduction of Interim
Standard-95 (IS-95), now referred to as cdmaOneÒ.
All of the 2G systems provided enhanced quality
and better capacity. Roaming became part of the service offerings
and coverage continued to improve. Today we have a combination of
1G and 2G systems and still face problems of limited capacity in
many markets. The industry is now moving to a third generation (3G)
system that promises better voice capacity, higher speed mobile
data connectivity, and multimedia applications.
FDMA, TDMA, and CDMA Explained
Before pursuing the 3G future, it is worthwhile to examine the operation
of each of the three air interfaces. First, one must remember that
a mobile telephone is nothing more than an FM radio with about 400
pairs of radio channels. Second, these channels are paired so that
one channel is from mobile to base and the other channel is from
base to mobile; this allows for duplex communication. In Figure
1 we refer to the air interface as the uplink and downlink. Third,
there is a set of two-way control channels that control the voice
channels. Last, the air interface needs a process by which voice
channels are allocated to multiple users simultaneously. Enter FDMA,
TDMA, and CDMA as the air interface channel allocation schemes.

Figure 1: Wireless System Overview
FDMA was the first allocation method
and it is the easiest to understand. A user wishing to make a phone
call signals their intention to do so by means of the control channel.
The operation is to enter the called party’s phone and depress the
send button. If there is voice capacity available in the cell, a
channel pair is assigned to the mobile station for the duration
of the call-one channel for one voice call. Assuming a typical layout
of cells, the maximum number of voice calls in any given cell would
be about 60. Clearly, one cannot support millions of users with
such limited capacity.
TDMA systems alleviated the channel
capacity issue by dividing a single radio channel into timeslots
and then allocating a timeslot to a user. For example, the U.S.
TDMA system had three timeslots per channel while the GSM system
had eight timeslots per channel (there are other significant differences
that are beyond the scope of this paper). To use these timeslots,
the analog voice had to be converted to digital. A voice coder,
known as a vocoder, performs this process. The initial capacity
gains were small but with the advent of low bit rate vocoders, the
number of voice channels per radio channel could be increased significantly.
CDMA systems took a very different
approach to the capacity issue. It also used the vocoder to digitize
the voice but instead of allocating time slots, each voice call
was assigned a unique code before being added into the radio channel.
The process is often called noise modulation because the resulting
signal looks like background noise. The mathematical details behind
the process are significant but a real world observation can be
used to somewhat explain the concepts.
Imagine that you have just landed at
a major international airport and you are entering the transit lounge
in preparation for boarding your next flight. As you enter the crowded
room, you first notice the noise. Because you speak English, you
catch snippets of English conversations. Similarly, French ears
hear French voices; German ears hear German voices, and so on through
the languages of the world. You can pick out each conversation as
long as the overall noise level is below some maximum. This means
that the maximum number of voice calls in a CDMA system is a function
of the background noise plus the noise created by each voice call.
Compared with TDMA, CDMA offers better capacity at essentially the
same or better quality. Figure 2 shows a simple graphical comparison
of the three air interfaces.

Figure 2: Comparison of FDMA, TDMA,
and CDMA
Of the one billion plus mobile telephony
subscribers in the world, about 690 million use GSM, 120 million
use CDMA, and the remaining 290 million use FDMA or TDMA. Across
all the digital systems, one finds a remarkable similarity between
voice and data services. As we move to 3G, the GSM and CDMA systems
will evolve whileTDMA and FDMA will be sent to the dustbin of history.
The GSM path ends with Wideband CDMA (WCDMA) whereas the CDMA path
ends with cdma2000Ò.
The 3G Vision
In the 1990s, the International Telecommunication Union - Telecommunication
Standardization Section began work on a vision of the future for
public land mobile telecommunications systems. The resulting product
was called International Mobile Telecommunications-2000 (IMT-2000).
As an aside, the "2000" was added to imply that these
services would be available around the year 2000. It now appears
that these services will become available during 2002.
IMT-2000 is much more than a set of
services, it fulfills the dream of anywhere and anytime communications.
To do this, it provides a framework for the integration of terrestrial
and/or satellite-based networks. Moreover, IMT-2000 discusses the
networks’ aspects of wireless Internet, convergence of fixed and
mobile networks, mobility management (roaming), mobile multimedia
functions, internetworking, and interoperability.
As specified, the 3G systems should
work in a universally acceptable spectrum range and provide voice,
data, and multimedia services. For the technically stationary user
operating in a picocell, the data rate would be up to 2.048 Mbps.
For a pedestrian user operating in the microcell, the data rates
would be up to 384 kbps. For a user with vehicular mobility operating
in the macrocell, the data rates would be up to 144 kbps. Figure
3 shows the relationship of the various IMT-2000 service areas.
A critical part of this system is providing packet-switched data
services. The evolution from 2G to 3G begins with the creation of
robust, packet-based data services.

Figure 3: IMT-2000 Service Areas
From GSM to 3G
The only true version of 3G wireless in the GSM evolution is Wideband
CDMA. In the European market, one hears WCDMA being referred to
as the Universal Mobile Telecommunications System (UMTS). WCDMA
and UMTS are one and the same; the names have been changed to confuse
the populace. The major question in this evolution is: How many
steps will it take to get there?
In the structure of 3G services, there
is a need for a tremendous amount of bandwidth and thus a need for
more spectrum. The European carriers spent over $100 billion to
purchase spectrum for 3G services; other carriers in the world have
also allocated 3G spectrum. In the U.S., the FCC has not allocated
any spectrum for 3G services and an allocation is not expected soon.
As an aside, the U.S. has about 190 MHz allocated for mobile wireless
services whereas the rest of the world has about 400 MHz allocated.
One thing is certain; the 3G evolution in the U.S. will be different
from the rest of the world.
Starting with a basic GSM system, the
first step in any evolution is to introduce a packet-switched data
service that is more sophisticated than the Short Message Service.
The General Packet Radio Service (GPRS) meets this need and today
there are over 50 GPRS?capable networks worldwide including three
in the U.S. market.
The major problem in implementing GPRS
is choosing the number of channels to allocate for GPRS data. GSM
uses eight timeslots per 200 kHz radio channel. Without GPRS, these
timeslots can accommodate at least eight voice users. If the spectrum
is already over utilized with just voice, then where does the data
go? The solution is to make trade-offs between data capacity and
voice capacity. For each timeslot allocated to data, we have a data
rate of 14.4 kbps. If all channels were allocated to data, the rate
would be 115.2 kbps. In reality, most providers begin with an uplink
(mobile to base) of one data channel and a downlink (base to mobile)
of three data channels. With overhead, the effective rates are somewhere
in the 20-40 kbps range. Since true 3G services start at 144 kbps,
some U.S. providers are calling their GPRS implementations 2.5G
to differentiate the service from the older 2G offering.
The second step to 3G actually delivers
a true 3G data rate. The Enhanced Data Rates for GSM (or Global)
Evolution (EDGE) can provide data rates up to 384 kbps. EDGE uses
the same 200 kHz channel with eight timeslots and gets its improved
speed by using a more efficient modulation scheme. Instead of 14.4
kbps per timeslot, EDGE achieves 48 kbps per timeslot. Allocating
the eight timeslots for data yields the 384 kbps speed. Most analysts
believe the actual rates will be in the 64-128 kbps range.
The strength of EDGE is that it uses
the traditional channel size, thus requires no additional spectrum.
As of this writing, it appears that only the U.S. market will move
to EDGE. In other markets the move will be directly to WCDMA using
the new 3G spectrum.
WCDMA is truly a broadband radio service.
It will use at least a 5 MHz channel to deliver data at rates of
up to 2 Mbps. Currently, there are WCDMA trials in both Europe and
Japan so the technology is well on its way to commercial availability.
From IS-95 to cdma2000
The CDMA world will not instantly morph into a 3G scenario because
of the lack of spectrum in the U.S. market. Interestingly, the Korean
market is already experimenting with cdma2000 in its 3G spectrum.
As we saw with the GSM evolution, the U.S. and the rest of the world
will take different roads to 3G systems.
Cdma2000 is structured in a way that
allows some 3G service levels in the traditional 1.25 MHz IS-95
channel. These services are referred to as cdma2000 1xRTT(one times
the IS-95 channel size radio transmission technology). At full 3G
capability, cdma2000 uses a 3.75 MHz channel, three times the traditional
channel, and is called 3xRTT.
The 1xRTT system uses a more efficient
modulation scheme to double the number of voice users and create
data channels of up to 144 kbps. This upper speed has allowed some
carriers to claim that they are offering 3G today. In reality, the
user speeds will be in the range of 50-60 kbps. Data in the 1xRTT
scheme would be packet-switched to ensure efficient channel use.
Speeds of up to 2.4 Mbps can be achieved
by implementing 1xEvolution-Data Only (1xEV-DO) but this is a data
only service-no voice allowed in the channel. When 1xEV-Data/Voice
(1xEV-DV) is eventually offered, then the true multimedia channel
will be available.
Beyond 1xEV-DV, one gets into the realm
of multichannel cdma2000. The 3xRTT would be a 3.75 MHz channel
implemented in 5 MHz of spectrum-the remaining 1.25 MHz is used
for upper and lower guard bands. There are operational scenarios
for 10 MHz, 15 MHz, and 20 MHz of spectrum. Figure 4 compares the
channel sizes and chip rates for UMTS and the CDMA 1x and 3x scenarios.

Figure 4: Defining the Chip Rate
Summary
It is clear that there will be several roads to 3G mobile wireless
systems. It is also clear that the vision of IMT-2000 has won widespread
acceptance. However, the incompatibility of 3G technologies, the
shortage of spectrum in many markets, and the lack of 3G applications
and handsets pose some significant near term problems.
From the technology perspective, WCDMA
and cdma2000 both use spread spectrum techniques. However, they
have different channel configurations, chipping codes, chipping
rates, and synchronization procedures. It will be some time before
harmonization of these technologies occurs.
As for spectrum, some countries have
it and others don’t. Moreover, the spectrum varies from country
to country and most, if not all of it, is in use today for other
applications. It will be an expensive and time-consuming task to
sort out all the spectrum issues worldwide.
Finally, there needs to be a set of
compelling applications. Wireless packet data services will allow
for the advent of always-on services. We are already seeing the
popularity of email and instant messaging to PDAs and handsets.
Now we need to get the array of multimedia applications that will
require the data speeds provided by 3G systems.
These issues aside, there are competing
wireless technologies that may obviate the need for the 3G wireless
systems described herein. Already the 802.11 wireless LANs with
speeds in the order of 10-50 Mbps are becoming the de facto connection
method for laptops. Can the use of 802.11 in PDAs and handsets be
far behind? Factor in things like Bluetooth and ultrawideband communications
and the field of broadband mobile wireless communications gets filled
with a number of viable players. As a final thought, Figure 5 puts
the alternatives to some aspects of 3G in perspective. The question
is whether these services will complement 3G or compete with it.

Figure 5: Ultrawideband, 802.11
and Bluetooth
Courtesy:
Hill Associates
Jun
16
Linkin Park In Pieces Lyrics
June 16, 2007 | | Leave a Comment
[Chester Bennington]
Telling me to go,
But hands beg me to stay.
Your lips say that you love,
Your eyes say that you hate.
There’s truth in your lies,
Doubt in your faith.
What you build you lay to waste.
There’s truth in your lies,
Doubt in your faith.
All I’ve got’s what you didn’t take.
So I, I won’t be the one,
Be the one to leave this,
In pieces.
And you, you will be alone,
Alone with all your secrets,
And regrets.
Don’t lie.
You promise me the sky,
Then toss me like a stone.
[In Pieces lyrics on http://www.metrolyrics.com]
You wrap me in your arms,
And chill me to the bone.
There’s truth in your lies,
Doubt in your faith.
All I’ve got’s what you didn’t take.
So I, I won’t be the one,
Be the one to leave this,
In pieces.
And you, you will be alone,
Alone with all your secrets,
And regrets.
Don’t lie.
[Guitar solo]
So I, I won’t be the one,
Be the one to leave this,
In pieces.
And you, you will be alone,
Alone with all your secrets,
And regrets.
Don’t lie.
Jun
15
Inti Agama Adalah Akhlak Mulia
June 15, 2007 | | Leave a Comment
Jumat, 15 Juni 2007,
[http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=290067]
Yusman Roy
Yusman
Roy sudah satu setengah tahun dipenjara gara-gara mengajarkan salat dua
bahasa. Tetapi, apa pandangan dia tentang akhlak dan keberagamaan?
Berikut perbincangan Kajian Utan Kayu (KIUK) dengan Pengasuh Pondok
Iktikaf Ngaji Lelaku, Malang itu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta,
beberapa waktu lalu.
Bagaimana awal mula Anda mengenal agama?
Sebenarnya
ini berawal semata-mata dari faktor usia. Sejak remaja, sudah ada
kesadaran pada diri saya tentang perlunya melakukan kebaikan. Terus
terang, saya cemburu pada teman-teman yang bisa berkelakuan baik dan
punya moralitas tinggi. Ini terjadi sekitar 1980-an.
Karena
itu, saya turun dari ring tinju (Roy adalah mantan petinju profesional)
setelah sempat memecahkan rekor tercepat KO tinju profesional di
Indonesia.
Selanjutnya bagaimana?
Dari sana saya mulai iri
melihat teman-teman yang berkelakuan lebih baik dari saya. Lalu saya
mulai mempelajari agama dan membaca Alquran yang ada terjemahannya.
Saya juga mulai belajar bahasa Arab.
Alhamdulillah, setelah
itu saya jadi tahu persis bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada
kekuasaan Allah. Allah berfirman, "Allah akan menyesatkan orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang
dikehendaki-Nya." Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Allah berkenan
memberi petunjuk dan membimbing saya, sehingga pintu hati saya
dibukakan untuk memahami Islam.
Sebelum memeluk Islam, seperti apa riwayat keberagamaan Anda?
Bapak
saya Islam, tapi ibu saya keturunan Belanda memeluk Katolik. Karena
itu, di masa kecil, saya Katolik. Tapi, pilihan beragama pada waktu itu
bukan atas dasar kesadaran, tapi lebih karena ikut-ikutan.
Karena
itu, saya belum bisa merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah.
Secara otomatis kenakalan-kenakalan masa kecil tak bisa dihindari,
sampai memasuki usia remaja dan menjalani profesi sebagai petinju.
Jujur
saya katakan, saya pernah hidup di masa jahiliah. Artinya, terlalu
bebas dan tidak memakai aturan-aturan. Tapi, itu bagian dari hidup saya
yang tidak bisa dipisahkan. Itu juga hal yang patut saya syukuri.
Karena
itu, memasuki usia ke-52 ini, saat melihat anak-anak nakal, saya tak
terlalu pesimistis. Saya tetap punya harapan. Sebab, diri saya yang
dulu nakal nggak ketulungan, toh bisa sadar dan berhenti juga. Dan,
Alhamdulillah, tiba-tiba Allah membukakan pintu hati saya untuk
berijtihad dengan gagasan salat dua bahasa yang diterima sebagian
kalangan muslim.
Anda ingin menekankan bahwa dalam kehidupan itu ada fase-fase atau terminal-terminal yang harus dilalui orang?
Ya.
Itu saya katakan sesuai dengan filsafat Jawa: aja dumeh. Maksudnya,
kalau melihat sesuatu yang kurang pas, janganlah terlalu dikecam, tapi
kita arahkan ke arah yang lebih baik. Istilahnya, selalu bil hikmah
atau dengan kearifan.
Jangan bertindak diskriminatif karena
itu tak akan memberi kesempatan kepada orang untuk berbuat baik.
Berikan orang kesempatan berbuat baik. Caranya banyak.
Misalnya?
Dalam
hidup, saya sudah terbiasa melihat anak-anak nakal. Kuncinya: bagaimana
kita, sebagai orang tua, mengarahkan yang muda tanpa rasa sakit hati.
Kebanyakan orang tua nelangsa ketika melihat anak muda yang nakal.
Mungkin itu karena tidak ada pembekalan yang cukup pada orang tua
tentang bagaimana mendidik anak yang tak cocok dengan keinginannya.
Padahal, itu justru memukul hati sendiri. Biarlah sang anak berkembang
sendiri.
Adakah guru yang ikut membimbing Anda masuk Islam dan menginspirasi untuk punya gagasan tertentu tentang Islam?
Awalnya
saya mengaji syariat dasar kurang lebih lima belas tahun. Setelah itu
saya tingkatkan lagi dengan mengambil jurusan bil hikmah. Itu lima
tahun, dengan seorang kiai yang cukup ternama di Surabaya dan Malang.
Jadi, 20 tahun saya menuntut ilmu. Setelah 20 tahun menuntut ilmu, saya
lalu mengemas gagasan untuk memperbaiki kualitas salat, baik sendiri
maupun berjamaah.
Mengapa secara spesifik memilih salat?
Dari
sanalah saya berangkat memperbaiki akhlak saya pribadi. Salat itu
tiangnya agama. Dan dalam agama dikatakan juga bahwa Inna as-shalâta
tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (sesungguhnya salat itu mencegah
perbuatan buruk dan kemunkaran)". Itu tercantum dalam Alquran surat 29:
45. Jadi, saya ingin ada pembentukan karakter melalui salat.
Tapi salat jenis apakah yang Anda maksud?
Memang
tidak sembarang salat. Tiwas orang sudah kelihatan aktif salat, tapi
karakternya tetap tak berubah; masih tetap ada kefasikan-kefasikan. Ini
sungguh menusuk hati saya. Banyak orang yang aktif salat, tapi juga
jadi penjahat besar. Setelah saya dekati, ternyata benar apa yang saya
prediksi: mereka melafalkan bahasa Arabnya saja. Mereka tak tahu
artinya. Inilah yang jadi masalah.
Padahal, dalam Alquran
surat al-Ma’un (4-5), Allah berfirman: Fawailun lil mushallîn,
alladzîna hum `an shalâtihim sâhun (celakalah pelaku salat yang
melalaikan salatnya). Lalai di sini banyak aspeknya. Bisa juga karena
tidak tahu konsekuensi dari apa yang dibaca dan apa yang didengarnya.
Maksudnya?
Bisa
saja orang terbiasa mendengarkan imam dalam salat. Tetapi, bisa jadi
sang makmum tidak paham maksud dan pesan dari ayat-ayat yang dibacakan
imam. Karena itu, tidak ada yang bisa diingat. Dari sanalah saya
menyimpulkan adanya orang yang gagal salat, dan itu celaka betul.
Dalam
surat Maryam ayat 59, Allah berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka
golongan yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya.
Maka mereka kelak akan menemui kesesatannya."
Menurut saya,
orang yang menyia-nyiakan salat itu jumlahnya cukup lumayan, termasuk
saya sendiri dulu. Akibatnya, banyak orang yang salat, tapi masih
melakukan kejahatan.
Bagi saya, hanya salat yang
berkualitaslah yang bisa membuat orang berakhlak karimah. Saya
membuktikan, dengan memperbaiki kualitas salat, kehidupan saya ternyata
mulai stabil. Dari sana saya mulai menular-nularkan pengalaman kepada
orang lain.
Kapan fase kesadaran itu tumbuh?
Sesudah
dewasa, ketika saya sudah punya anak dan mulai mengasuh sebuah pondok
di Malang. Pondok itu saya bangun untuk menampung teman-teman yang
datang dengan membawa berbagai masalah. Ada yang sumpek, karirnya
gagal, dan sebagainya.
Mereka saya arahkan untuk salat dengan memahami apa yang dia baca dalam salat yang menggunakan bahasa Arab.
Menurut Anda unsur apa dari agama yang paling penting?
Tentu
saja budi pekerti. Kalau kita berangkat dari agama yang konsisten, akan
ada buahnya, yaitu adanya akhlak yang karimah. Nabi Muhammad sendiri
menyatakan bahwa dia diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Jadi
inti dari agama itu ada pada akhlak.
Nah, bagi kita yang
beragama impor ini sudah barang tentu harus paham arti dan isi
pesannya. Kalau bahasanya saja kita tidak tahu, bagaimana kita bisa
menghayati isinya. (nvriantoni)
May
23
‘Gol Awal Pippo Cuma Kebetulan’ ??
May 23, 2007 | | Leave a Comment
‘Gol Awal Pippo Cuma Kebetulan’ [http://www.detiksport.com/boladunia/index.php/home.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/24/time/085542/idnews/784396/idkanal/73]
Biasa lah, pihak yang kalah seringkali punya alasan untuk tidak dianggap kalah, padahal nyatanya ????
apa pun itu, tidak ada yang namanya kebetulan, yang ada adalah usaha … wis taa, kalo liverpool maennya kayak semalem, nendang sak enak-e dewe, ngawur, yo gak kira iso menang ….. bola itu butuh taktik, strategi …
May
21
Striker Terproduktif di Satu Laga
May 21, 2007 | | Leave a Comment
Jakarta - Apa istimewanya koleksi 16 gol dalam satu musim oleh seorang pemain sepakbola? Tidak ada. Tapi lain ceritanya jika jumlah gol sebanyak itu dicetak hanya dalam satu laga. Edan!
Ya, itulah yang dibukukan Panaglotis Pontikos di kompetisi divisi tiga Liga Siprus 7 Mei lalu. Saat itu timnya, Olympos Xylofagou menang telak 24-3 atas SEK Ayios Athanasios.
Tak pelak rekor pun tercipta. Nama Pontikos pun tercatat dalam Guinness Book of Record sebagai pemain paling subur di satu pertandingan.
Namun Pontikos tidak sendirian di buku rekor dunia itu. Pada Desember 1942, saat laga Racing Club kontra Aubry Asturies di ajang Piala Prancis, seorang striker Racing Club bernama Stephan Stanis juga pernah menjebol gawang lawan sebanyak 16 kali.
Menyangkut produktivitas pemain di satu game, Pontikos dan Stanis bukan satu-satunya pemain, yang bisa dibilang, cukup tajam mengancam gawang lawan.
Dikutip dari Guardian, Selasa (15/5/2007), Archie Thompson juga pernah mencetak 13 gol dan hebatnya, ia membukukannya saat memperkuat timnas Australia. Saat itu Socceroos menang 31-0 atas American Samoa.
Di tanah Inggris, rekor juga sempat tercipta dari kaki dan kepala Joe Payne. Striker Luton Town itu membukukan 10 gol saat timnya menang 12-0 atas Bristol Rovers di malam Paskah tahun 1936.
http://www.detiksport.com/injurytime/index.php/home.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/15/time/154748/idnews/781130/idkanal/427

