Berani Hidup

Posted on August 31st, 2005 in Filosof Hidup by mahmud

Minggu, 28 Agt 2005  (www.jawapos.com)
Berani Hidup

Oleh D. Zawawi Imron
Para penjelajah dunia, sebagai pencari dan penemu, semisal Marcopolo, Ibnu Batutah, Laksamana Cheng Hoo, dan lain-lain, adalah orang-orang yang berani hidup dengan mencintai kehidupan. Untuk kehidupan itu mereka rela menerima segala macam risiko, kesulitan, penderitaan, dan mungkin maut.

Demikian juga Kapten Scott yang sedang menjelajah ke Antartika, di Kutub Selatan. Dalam perjalanan yang tak mulus itu ia diterpa kedinginan yang mencekam. Saat itu ia tahu, ada bayang-bayang maut hendak merenggut. Ia sempatkan menulis surat kepada sahabatnya, seorang penulis Inggris terkenal, Sir James Barrie, tentang duka derita di tengah hamparan salju. Di samping itu ia menulis bahwa James Barrie pasti akan lebih senang mendengar kisah dan nyanyian perjalanan yang penuh kegembiraan. Lebih dari itu, penjelajah yang sudah di ambang maut itu sempat membubuhkan sebuah kata, yang mungkin dianggap lebih penting dari kalimat-kalimat sebelumnya, yaitu istilah "keberanian".

Entah beberapa jam kemudian ia lalu menyerah kepada takdir. Maut menyergapnya ketika surat yang ditulis untuk sahabatnya itu masih erat ia genggam dengan tangannya.

Peristiwa itu tidak ada yang akan tahu –kecuali Tuhan– seandainya para penjelajah yang lain tak datang ke tempat itu beberapa tahun kemudian dan menemukan jenazahnya membeku dalam timbunan salju. Surat yang ia genggam itu, yang ditulis Scott untuk sahabatnya, akhirnya disampaikan kepada si pemilik alamat, James Barrie. Betapa terkejutnya sang sahabat membacanya, dan ia tahu betapa Kapten Scott menghormatinya, karena menjelang maut pun Scott masih mengingatnya, menyuratinya dengan jiwa yang penuh ketegaran. Ketegaran yang melahirkan "keberanian".

Surat itu meskipun tidak dijadikan azimat oleh James Barrie, tapi disimpan dalam sebuah peti. Diistimewakan. Beberapa saat kemudian, pengarang Inggris itu tidak bisa menulis, tangan kanannya lumpuh. Dalam keadaan tidak berdaya, pada suatu ketika ia membuka peti yang berisi surat dari mendiang sahabatnya, Kapten Scott. Kedua matanya terfokus pada sebuah kata yang ditulis Scott, yaitu "keberanian". Kata itu tiba-tiba memacu sisa energi yang ada dalam dirinya. "Jika orang menjelang sekarat masih punya ketegaran, kenapa aku tidak?" tanyanya kepada dirinya sendiri.

Kemudian semangat hidupnya berkobar kembali. Vitalitas itu diam-diam menggerakkan tangan kirinya untuk menulis. Ia menulis dengan riang gembira, menyatakan hidup dan keberanian meskipun dengan tangan kiri. Kegairahan hidup pelan-pelan menyegarkan jiwanya, kemudian berlanjut menyegarkan syaraf-syaraf tangan kanannya. Akhirnya tangan kanannya sembuh, dan ia bisa menulis lagi.

Kisah di atas mengandung banyak hikmah. Antara lain tentang bagaimana seseorang berpihak dan mencintai kehidupan dengan semangat hidup yang total. Semangat menghargai hidup, vitalitas, dan energisitas merupakan kecerdasan yang sangat berharga.

Orang boleh mengantongi setumpuk gelar, tapi kalau tidak punya kecerdasan hidup dan vitalitas, ia bisa hanya menjadi onderdil, sekrup, bahkan menjadi robot dari kenyataan yang ada di sektiar dirinya.

Di sinilah pentingnya semangat hidup, gairah, menjadi diri sendiri. Kalau bekerja bukan sekadar mencari makan dan menumpuk kekayaan, bukan sekadar menjadi hamba bagi egonya sendiri. Lebih dari itu ia menyatakan hidup dalam kesadaran kemanusiaan dalam bentuk kebersamaan. Gairah hidup itu saling memantul antara nurani manusia yang satu dan nurani-nurani yang lain, sebagaimana semangat hidup yang ditulis Kapten Scott menjelang ajalnya mampu menularkan vitalitas pada James Barrie yang tangannya lumpuh bisa sembuh dan bisa menulis kembali. Dalam kitab akhlak di pesantren yang berjudul Ta’limul Muta’allim, ada puisi yang seirama dengan semangat hidup dalam kisah di atas:

Orang orang yang tidak cerdas,
telah mati sebelum mereka dikuburkan
Orang-orang yang cerdas meskipun mati
Masih bisa menghidupkan semangat generasi penerusnya

Alangkah mahalnya kecerdasan hidup atau kecerdasan kemanusiaan, karena dengan kecerdasan itu seorang anak manusia akan berani hidup, bahkan berani mati asalkan untuk kehidupan. Perhatikan para pahlawan. Mereka berani mati agar bangsanya hidup. Kematian yang secara hakiki menjadi sumber ilham bagi kehidupan.




Post a comment