Kang Saridin
Minggu, 29 Desember 2002 (www.kompas.com)
ASAL USUL
Kang Saridin
Mohamad Sobary
Nami kulo Kamidin, kulo dados dokter", nama saya Kamidin, saya menjadi dokter. Dalam urusan mengobati penyakit dokter Kamidin "sakelangkung pinter", sangat pintar.
Ini penggalan salah satu nyanyian dalam Bahasa Jawa di SD saya tahun 1960-an di kampung, yang dinyanyikan anak-anak di sekolah sambil menahan rasa geli, dan ketawa terbahak-bahak sesudahnya.
Juga ketika di rumah, sebab di kampung saya ada orang bernama Kamidin, petani buta huruf, yang hampir tak pernah bepergian melewati batas desanya. Kang Kamidin, sampai usia lanjut, tak pernah melihat kota.
Ia pun tak pernah memperoleh sentuhan pengaruh modernitas dalam bentuk apa pun. Di kampung saya, orang seperti itu disebut "wong ndeso kluthuk". Artinya orang desa tulen. Ia jelas bukan dokter.
Kontradiksi tajam antara citra Kang Kamidin asli dan Kamidin imajiner itu, sekali lagi, menimbulkan respons gelak tawa pada kami, anak-anak. Nyanyian "dokter Kamidin" pun menjadi populer, termasuk di kalangan orang-orang dewasa. Kang Kamidin asli lalu menjadi ejekan.
"Wah, duh, doktere teko," (dokternya datang), kata seseorang, ketika suatu hari Kang Kamidin muncul terlambat di tengah kerumunan warga desa. Hampir setiap orang menoleh ke arahnya. Ia hanya bisa tersipu-sipu disebut dokter. Kasihan Kang Kamidin.
Lain Kamidin, lain pula Saridin. Di daerah pedesaan pantai Utara, yang jauh dari tempat saya, ada Desa Miyono, tempat Saridin dimakamkan. Dalam perjalanan pulang dari Rembang, menghadiri pesta pernikahan putri Kiai Mustofa Bisri minggu lalu itu, saya diberi tahu letak makam Saridin.
"Di belokan ke kiri itu jalan ke makamnya," kata teman
saya.
Di zamannya, orang desa sekitar pun tak ada yang tahu persis siapa Saridin. Orang tahunya Saridin ya Saridin, orang desa yang juga tak tersentuh pendidikan, dan namanya bahkan tercoreng tindak kejahatan yang pernah dilakukannya. Ia diuber-uber prajurit Kadipaten Pati, dan entah bagaimana, ia lenyap begitu saja. Orang pun lupa kisah Saridin.
Puluhan tahun kemudian muncul "pesantren" baru yang mengguncangkan kemapanan pesantren-pesantren lain yang sudah dirintis lama sebelumnya. Para santri dari pesantren-pesantren lain pindah ke pesantren baru tersebut. Para tokoh dunia Islam, termasuk Sunan Kudus, risau.
Mereka kemudian mendengar, pesantren baru itu diasuh oleh Syech Jangkung.
"Syech Jangkung? Siapa dia? Dan dari mana?" Banyak pihak gugup menghadapi kenyataan itu. Maka, Sunan Kudus mengutus seorang mantan santri kepercayaannya, yang sudah memangku jabatan Ketib, untuk menelusuri jejak Syech Jangkung. Sang Ketib menemukan, tokoh yang mengaku Syech Jangkung itu tak lain ternyata cuma si Saridin.
"O, alah, Din, Din, kamu kok senangnya bikin bingung orang. Mbok terus terang saja kamu bilang Saridin begitu saja kan beres," kata Sang Ketib. "Kenapa kamu berani mengaku-ngaku Syech Jangkung? Kamu kira gelar Syech itu barang apa, maka kamu pakai sembarangan begitu? Ayo, sekarang aku tangkap kamu, dan aku laporkan Kanjeng Sunan Kudus."
"Tunggu dulu tuan Ketib, apa dosaku?"
"Dosamu sangat besar. Kamu tak pernah tersentuh air wudu, kamu tak pernah belajar sujud pada Tuhan, tapi berani memakai gelar Syech. Itu penghinaan. Aku sendiri yang berpuluh-puluh tahun sujud, tak pernah memakai gelar Syech. Aku tidak terima."
"Tuan Ketib, soal wudu, soal sujud, soal shalat, itu bukan urusan publik. Ini sangat pribadi. Maka aku tak pernah melaporkannya pada siapa pun. Tidak pada Tuan Ketib, tidak juga pada Kanjeng Sunan Kudus."
Tuan Ketib marah besar. Baginya, sekali lagi, Saridin ya Saridin. Ia tak mungkin tahu perkara agama.
Mungkin, di sinilah masalahnya: subyektivitas di dalam diri sang Ketib bicara lebih nyaring dibanding obyektivitas di luar dirinya. Saridin sebetulnya juga sudah menjelaskan bahwa ia murid Syech Malaya, alias Sunan Kalijaga, Sahabat Sultan Agung di Mataram, dan sahabat salah seorang Sultan di negeri Rum.
Cerita rakyat yang juga dikasetkan dalam lakon ketoprak Syech Jangkung itu menggambarkan bahwa Saridin memang bukan sembarang orang. Ia bukan cuma Saridin sebagaimana citra umum orang desa di sekitarnya. Sejak masih bayi ia ditinggal ibunya di pinggir kali, dan bayi itu diselamatkan Sunan Kalijaga.
Tak mengherankan ia bisa menjadi tokoh agama yang sikapnya meneduhkan. Di bawah asuhan Sunan Kalijaga agaknya Saridin sudah menemukan inti sari hidup: ikuti hakikat jalan agama yang lurus, yang mengajarkan penyerahan diri, dan ketu-lusan.
Ya, saya tahu Kang Saridin, tak semua orang bisa seperti sampean. Sampean cuma Saridin yang remeh di mata Sunan Kudus dan Tuan Ketib, maupun orang-orang lain yang merasa memahami ilmu agama. Tapi kerendahan hati sampean mungkin merupakan energi rohaniah yang bisa membuat sampean mampu mendaki puncak gunung tertinggi, yang tak mungkin kita tempuh hanya dengan mengandalkan ilmu. *
Post a comment