Kasih Penjual Sandal
Minggu, 11 Sept 2005, <jawapos.com>
Kasih Penjual Sandal
Oleh D. Zawawi Imron
Kalau direnungkan, kehadiran ayam ke dunia seperti hanya untuk memberikan telur kepada manusia, kehadiran sapi untuk menghadiahkan dagingnya untuk disemur atau dibistik oleh manusia, dan kehadiran lebah untuk mempersembahkan madu untuk manusia. Setiap manusia tentu tahu hal itu, tapi belum tentu semua merasakan dan menghayati andil berbagai margasatwa dalam membantu hidupnya. Untuk merasakan dan menghayati hal itu perlu olah rohani sehingga si manusia punya sejenis pencerahan yang berupa kecerdasan emosional. Emosi yang cerdas dalam memandang kehidupan ini sebagai samudra yang menyediakan kenikmatan dan keindahan.
Mencerdaskan kepekaan sebenarnya menjadi bagian dari cara untuk menikmati hidup. Abu Madi mengatakan: "Barang siapa di dalam dirinya tidak ada rasa keindahan (kepekaan estetik), ia tidak akan melihat segala sesuatu yang terwujud ini menjadi sesuatu yang indah."
Jika kehadiran ayam, sapi dan lebah saja mampu memberikan kenikmatan kepada manusia, apalagi manusia yang sudah tentu harus memberikan kenikmatan yang maksimal bagi manusia yang lain. Pemberian yang terindah ialah manifestasi dari rasa belas kasih yang tumbuh dari hati yang tulus dan bersih. Merugikan, menyakiti, dan melukai orang lain adalah perbuatan yang berlawanan dengan rasa cinta kasih.
Kadang kita merasa aneh, dari negeri yang maju, seperti di negeri-negeri Eropa, ternyata dari sanalah tumbuh semangat penjajahan. Bagaimana ini? Penjajahan barangkali bukan produk dari spirit kebudayaan dalam maknanya yang sejati. Penjajahan lebih tepat dikatakan sebagai bagian dari "syahwat" politik, dan mungkin juga ekonomi.
Kegiatan ekonomi yang punya wawasan kasih sayang pun tidak akan pernah merugikan manusia. Satu ketika saya naik kapal feri menyeberang dari Surabaya ke Madura. Saat duduk, ada orang yang menawarkan sandal jepit plastik dengan harga Rp 7.500. Saya memang tertarik dengan sandal yang ditawarkan itu. Saya lalu membeli dengan nomor yang cocok untuk kaki saya. Saya bayar sesuai dengan harga yang ditawarkan. Setelah menghitung uang pembayaran, si penjual mengembalikan Rp 1.500 kepada saya.
"Lho, mengapa dikembalikan?"
"Harga yang sebenarnya Rp 6.000, Pak. Uang Bapak lebih."
"Tapi mengapa Anda memberi harga Rp 7.500?"
"Biasanya pembeli di atas kapal ini suka menawar. Jadi saya beri harga agak tinggi. Jadi kalau ada orang menawar, asal saya dapat untung walaupun sedikit, saya kasih. Karena Bapak tidak menawar, untung saya terlalu banyak. Bapak akan rugi."
Saya tak habis pikir, di era milenium ketiga ini masih ada orang-orang yang punya kecerdasan tak ingin merugikan orang lain. Sikap seperti itu tentu saja karena ada ruang luas di rongga batinnya yang sengaja ia isi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Kemudian menghormati sesama manusia menjadi nikmat dan indah. Saya lalu berpikir, seandainya si penjual sandal itu menjadi saudagar kaya tentu akan menolong banyak orang miskin. Seandainya ia menjadi pejabat, tentu akan berusaha untuk membahagiakan rakyat, tidak akan korupsi dan tidak akan menyelewengkan wewenang. Kasih sayang yang dimilikinya akan membuat ia mengasihi orang lain sebagaimana ia mengasihi saudara atau anaknya sendiri.
Belas kasih seperti itu tidak hanya dimiliki penjual sandal itu saja. Di mana-mana masih saya jumpai belas kasih yang sama. Sampai sekarang masih ada orang menjual nasi urap satu bungkus lima ratus rupiah, bubur ayam di Jogja satu mangkok seribu rupiah, dan ada lagi tukang becak kalau ditanya ongkos naik becaknya ia menyerahkan kepada kerelaan penumpang.
Itulah belas kasih yang seharusnya menjadi substansi kemanusiaan. Tentang belas kasih ini saya jadi ingat Anthony de Mello. Dia menulis, "Jika engkau harus memilih antara hati yang penuh belas kasih dan ideologi maka tolaklah ideologi tanpa ragu-ragu. Belas kasih tidak bersifat ideologis."
Tulisan ini bukan mengajak kita jadi "Pak Turut" de Mello. Bagi orang yang menganggap ideologi perlu, silahkan pakai. Tapi jangan sampai kehilangan belas kasih sehingga memusuhi manusia lain. ***
Post a comment