Inti Agama Adalah Akhlak Mulia

June 15, 2007 | |

Jumat, 15 Juni 2007,

[http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=290067]

Yusman Roy

Yusman
Roy sudah satu setengah tahun dipenjara gara-gara mengajarkan salat dua
bahasa. Tetapi, apa pandangan dia tentang akhlak dan keberagamaan?
Berikut perbincangan Kajian Utan Kayu (KIUK) dengan Pengasuh Pondok
Iktikaf Ngaji Lelaku, Malang itu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta,
beberapa waktu lalu.

Bagaimana awal mula Anda mengenal agama?
Sebenarnya
ini berawal semata-mata dari faktor usia. Sejak remaja, sudah ada
kesadaran pada diri saya tentang perlunya melakukan kebaikan. Terus
terang, saya cemburu pada teman-teman yang bisa berkelakuan baik dan
punya moralitas tinggi. Ini terjadi sekitar 1980-an.

Karena
itu, saya turun dari ring tinju (Roy adalah mantan petinju profesional)
setelah sempat memecahkan rekor tercepat KO tinju profesional di
Indonesia.

Selanjutnya bagaimana?
Dari sana saya mulai iri
melihat teman-teman yang berkelakuan lebih baik dari saya. Lalu saya
mulai mempelajari agama dan membaca Alquran yang ada terjemahannya.
Saya juga mulai belajar bahasa Arab.

Alhamdulillah, setelah
itu saya jadi tahu persis bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada
kekuasaan Allah. Allah berfirman, "Allah akan menyesatkan orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang
dikehendaki-Nya." Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Allah berkenan
memberi petunjuk dan membimbing saya, sehingga pintu hati saya
dibukakan untuk memahami Islam.

Sebelum memeluk Islam, seperti apa riwayat keberagamaan Anda?
Bapak
saya Islam, tapi ibu saya keturunan Belanda memeluk Katolik. Karena
itu, di masa kecil, saya Katolik. Tapi, pilihan beragama pada waktu itu
bukan atas dasar kesadaran, tapi lebih karena ikut-ikutan.

Karena
itu, saya belum bisa merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah.
Secara otomatis kenakalan-kenakalan masa kecil tak bisa dihindari,
sampai memasuki usia remaja dan menjalani profesi sebagai petinju.

Jujur
saya katakan, saya pernah hidup di masa jahiliah. Artinya, terlalu
bebas dan tidak memakai aturan-aturan. Tapi, itu bagian dari hidup saya
yang tidak bisa dipisahkan. Itu juga hal yang patut saya syukuri.

Karena
itu, memasuki usia ke-52 ini, saat melihat anak-anak nakal, saya tak
terlalu pesimistis. Saya tetap punya harapan. Sebab, diri saya yang
dulu nakal nggak ketulungan, toh bisa sadar dan berhenti juga. Dan,
Alhamdulillah, tiba-tiba Allah membukakan pintu hati saya untuk
berijtihad dengan gagasan salat dua bahasa yang diterima sebagian
kalangan muslim.

Anda ingin menekankan bahwa dalam kehidupan itu ada fase-fase atau terminal-terminal yang harus dilalui orang?
Ya.
Itu saya katakan sesuai dengan filsafat Jawa: aja dumeh. Maksudnya,
kalau melihat sesuatu yang kurang pas, janganlah terlalu dikecam, tapi
kita arahkan ke arah yang lebih baik. Istilahnya, selalu bil hikmah
atau dengan kearifan.

Jangan bertindak diskriminatif karena
itu tak akan memberi kesempatan kepada orang untuk berbuat baik.
Berikan orang kesempatan berbuat baik. Caranya banyak.

Misalnya?
Dalam
hidup, saya sudah terbiasa melihat anak-anak nakal. Kuncinya: bagaimana
kita, sebagai orang tua, mengarahkan yang muda tanpa rasa sakit hati.
Kebanyakan orang tua nelangsa ketika melihat anak muda yang nakal.
Mungkin itu karena tidak ada pembekalan yang cukup pada orang tua
tentang bagaimana mendidik anak yang tak cocok dengan keinginannya.
Padahal, itu justru memukul hati sendiri. Biarlah sang anak berkembang
sendiri.

Adakah guru yang ikut membimbing Anda masuk Islam dan menginspirasi untuk punya gagasan tertentu tentang Islam?
Awalnya
saya mengaji syariat dasar kurang lebih lima belas tahun. Setelah itu
saya tingkatkan lagi dengan mengambil jurusan bil hikmah. Itu lima
tahun, dengan seorang kiai yang cukup ternama di Surabaya dan Malang.
Jadi, 20 tahun saya menuntut ilmu. Setelah 20 tahun menuntut ilmu, saya
lalu mengemas gagasan untuk memperbaiki kualitas salat, baik sendiri
maupun berjamaah.

Mengapa secara spesifik memilih salat?
Dari
sanalah saya berangkat memperbaiki akhlak saya pribadi. Salat itu
tiangnya agama. Dan dalam agama dikatakan juga bahwa Inna as-shalâta
tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (sesungguhnya salat itu mencegah
perbuatan buruk dan kemunkaran)". Itu tercantum dalam Alquran surat 29:
45. Jadi, saya ingin ada pembentukan karakter melalui salat.

Tapi salat jenis apakah yang Anda maksud?
Memang
tidak sembarang salat. Tiwas orang sudah kelihatan aktif salat, tapi
karakternya tetap tak berubah; masih tetap ada kefasikan-kefasikan. Ini
sungguh menusuk hati saya. Banyak orang yang aktif salat, tapi juga
jadi penjahat besar. Setelah saya dekati, ternyata benar apa yang saya
prediksi: mereka melafalkan bahasa Arabnya saja. Mereka tak tahu
artinya. Inilah yang jadi masalah.

Padahal, dalam Alquran
surat al-Ma’un (4-5), Allah berfirman: Fawailun lil mushallîn,
alladzîna hum `an shalâtihim sâhun (celakalah pelaku salat yang
melalaikan salatnya). Lalai di sini banyak aspeknya. Bisa juga karena
tidak tahu konsekuensi dari apa yang dibaca dan apa yang didengarnya.

Maksudnya?
Bisa
saja orang terbiasa mendengarkan imam dalam salat. Tetapi, bisa jadi
sang makmum tidak paham maksud dan pesan dari ayat-ayat yang dibacakan
imam. Karena itu, tidak ada yang bisa diingat. Dari sanalah saya
menyimpulkan adanya orang yang gagal salat, dan itu celaka betul.

Dalam
surat Maryam ayat 59, Allah berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka
golongan yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya.
Maka mereka kelak akan menemui kesesatannya."

Menurut saya,
orang yang menyia-nyiakan salat itu jumlahnya cukup lumayan, termasuk
saya sendiri dulu. Akibatnya, banyak orang yang salat, tapi masih
melakukan kejahatan.

Bagi saya, hanya salat yang
berkualitaslah yang bisa membuat orang berakhlak karimah. Saya
membuktikan, dengan memperbaiki kualitas salat, kehidupan saya ternyata
mulai stabil. Dari sana saya mulai menular-nularkan pengalaman kepada
orang lain.

Kapan fase kesadaran itu tumbuh?
Sesudah
dewasa, ketika saya sudah punya anak dan mulai mengasuh sebuah pondok
di Malang. Pondok itu saya bangun untuk menampung teman-teman yang
datang dengan membawa berbagai masalah. Ada yang sumpek, karirnya
gagal, dan sebagainya.

Mereka saya arahkan untuk salat dengan memahami apa yang dia baca dalam salat yang menggunakan bahasa Arab.

Menurut Anda unsur apa dari agama yang paling penting?
Tentu
saja budi pekerti. Kalau kita berangkat dari agama yang konsisten, akan
ada buahnya, yaitu adanya akhlak yang karimah. Nabi Muhammad sendiri
menyatakan bahwa dia diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Jadi
inti dari agama itu ada pada akhlak.

Nah, bagi kita yang
beragama impor ini sudah barang tentu harus paham arti dan isi
pesannya. Kalau bahasanya saja kita tidak tahu, bagaimana kita bisa
menghayati isinya. (nvriantoni)


Comments



Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind